Senin, 25 Februari 2013

Yang Terlupa tapi, sangat berarti untuk Mereka

Yang terlupa tapi, sangat berarti untuk Mereka

          Mungkin pagi hari dengan sinar matahari yang menyinari jendela kamar kita akan terasa membosankan atau malah memuakkan bagi kita. Tapi pernahkah kita berpikir bahwa mungkin  bagi mereka pengungsi Merapi, korban tsunami di mentawai atau banjir di Wasior hal ini terasa sangat berarti bagi mereka. Karena bisa melihat mentari pagi membuat mereka tahu bahwa masih ada harapan untuk mereka.
            Saat kita bangun di pagi hari dan tubuh seperti rasanya tak ingin bangun, kita mengumpat kenapa harus sekolah, kenapa kita harus bangun pagi. Bukankah akan lebih baik jika sekolah itu tidak ada, tak akan ada pelajaran, PR, dan seragam yang sama selama bertahun – tahun. Tapi pernahkah kita berpikir bahwa masih ada banyak anak yang jauh lebih tidak beruntung dibanding kita. Mereka rela kerja keras untuk memastikan bahwa ada makanan yang akan mereka makan untuk hari ini, dan mereka yang rela menukar apapun yang mereka memiliki untuk bisa sekolah, mendapatkan ilmu seperti kita.
            Saat kita keluar rumah, tak pernah terpikir oleh kita untuk berbalik dan memandang rumah kita. Karena kita sering menganggap bahwa tempat yang kita tinggali itu tidak pantas untuk menghentikkan langkah kita dan membuat kita memandangnya. Tetapi pernahkah terpikir oleh kita bahwa banyak orang yang ada diluar sana, yang rela mengubur diri mereka hidup – hidup hanya untuk mempertahankan rumah yang mereka tinggali. Walaupun tempat itu hanyalah sebuah bangunan yang berdindingkan triplek bekas dan beralaskan tanah.
            Kita sering iri jika melihat teman kita mempunyai handphone yang canggih, bisa untuk kamera, bisa akses internet, dan punya fitur – fitur lainnya yang lebih canggih. Tapi pernahkah kalian berpikir saat kita merengek pada orang tua kita untuk dibelikan handphone yang lebih canggih seperti blackberry atau mengganti handphone kita yang terasa jadul dengan yang baru. Ada ribuan orang lainnya yang rela menjual handphone mereka untuk memastikan bahwa keluarganya bisa makan cukup walau sebungkus nasi putih dengan sepotong tempe.
            Kita merasa dingin, jika hujan mengguyur tempat kita tinggal dan kita mengeluh kenapa hari ini harus hujan. Karena acara kita terganggu atau hujan ini membuat kita basah dan kedinginan. Tapi pernahkah kita melihat orang  - orang Ethiopia yang terkena bencana kekeringan, mereka rela menukar emas ataupun ternak yang mereka miliki hanya untuk membeli setetes air.
            Sering, kita mengeluh karena baju yang kita miliki hanya ini, ini saja. Atau karena modelnya sudah nggak jaman atau karena warnanya sudah terasa mencolok mata atau baunya membuat kita merasa mual padahal sebenarnya baju itu masih bisa dipakai. Tapi pernahkah kita melihat para korban bencana alam, mereka tak punya pakaian selain yang melekat dibadan mereka entah itu karena tersapu banjir, terseret tsunami, hilang saat gempa bumi atau tersapu awan panas. Dan mereka menerima semua itu tanpa mengeluh tapi dengan penuh syukur karena mereka masih bisa hidup.
            Kita sering merasa bahwa Ayah, adalah orang yang over protektif atau kolot. Karena Ayah sering melarang kita untuk pergi dengan orang yang tak kita kenal, karena Ayah menyuruh kita untuk tidak pulang lebih dari jam 9 malam. Tapi pernahkah kita berpikir berapa banyak anak dimuka bumi ini yang ingin merasakan memiliki seorang Ayah. Seseorang yang akan mengangkat mereka saat mereka terjatuh, seseorang yang akan selalu ada didepan mereka saat mereka menghadapi suatu masalah, seseorang yang akan selalu menyediakan punggungnya untuk melindungi mereka saat suatu bahaya mengancam. Atau seseorang yang akan memarahi mereka saat mereka pulang terlambat.
            Sebuah teriakan, ocehan, omelan, bahkan sebuah cubitan sering mengiringi kehidupan kita. Ya, Ibu dia adalah orang yang paling sering meneriaki kita saat kita bangun siang. Dia yang sering mencubit kita saat kita benar – benar membuat kita jengkel. Pernah kita berpikir bahwa sebaiknya bahwa Ibu itu tidak ada entah kemana, kita selalu bersyukur saat Ibu kita pergi entah ke pasar atau arisan. Tapi pernahkah kita berpikir ada ribuan anak lain yang rela menukarkan nyawa yang mereka miliki untuk bisa memanggil seorang sosok yang kita kenal sebagai Ibu.
            Teman, mungkin hal – hal seperti itu tak akan terasa istimewa bagi kita yang memiliki semuanya. Tapi pernahkah kalian berpikir apa yang akan terjadi pada kita esok hari. Jika sebelumnya kita berpikir bahwa para korban bencana itu terlalu dimanja karena mereka hanya bisa menadahkan tangan untuk menunggu uluran tangan kita.
            Tapi pernahkah kita berpikir atau mencoba mermbayangkan apa yang terjadi pada mereka. Bagaimana jika kita kehilangan rumah, baju, atau handphone. Atau pernahkah kita berpikir bagaiman jadinya jika kita harus bangun dan mendapati diri sedang bersama banyak orang disebuah barak pengungsian tanpa Ayah atau Ibu kita. Memikirkannya saja sudah membuat kita takut.
            Mungkin kita bisa membantu mereka dengan mengulurkan tangan pada mereka dan meyakinkan mereka bahwa kita akan selalu ada untuk membantu mereka. Atau jika kita tak bisa membantu mereka secara langsung  kita bisa membantu mereka dengan menyumbang materi atau baju – baju bekas yang kita miliki. Tapi jika kita benar – benar tak mampu membantu mereka secara langsung ataupun materi, mungkin hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah menghargai dan mensyukuri apapun yang ada dihidup kita.












Nur Raeda F.A
XI.IS.4/19

Tidak ada komentar: