Jumat, 01 Maret 2013

”Aku bisa . . . . Fast”


 
”Aku bisa . . . . Fast” 

Di sebuah jalan berukuran dua meter dengan beberapa lampu jalan yang menerangi beberapa pengendara motor yang lewat. Terlihat seorang gadis berpakaian putih abu – abu yang sedang membawa dua kantong plastik hitam yang berukuran sedang dan sebuah tas slempang di bahu kirinya, memasuki sebuah halaman rumah yang tampak suram yang hanya diterangi lampu yang mungkin hanya berukuran 25 watt. Setelah mengaduk – aduk tas slempang yang ia bawa dan sedikit mengeluh akhirnya ia bisa menemukan apa yang ia cari, sebuah kunci berukuran kecil model kuno sesuai rumahnya dengan sebuah gantungan mickey mouse yang sudah kusam.
Dengan sedikit tergesa ia menuju dapur, setelah menyalakan beberapa saklar lampu utama sehingga terlihat sebagian besar bentuk rumah itu, rumah tua dengan 2 kamar, 1 kamar mandi dan 3 ruang utama yang terdiri dari ruang tamu, dapur dan sebuah ruang yang sepertinya difungsikan sebagai ruang serbaguna karena terdapat banyak barang disana dari yang bekas berkarat sampai yang masih terbungkus plastik.
” Kring . . .kring . . .kring . . .” terdengar suara telepon dari ruang serbaguna itu. Gadis berbaju putih abu – abu itu langsung berlari menuju meja telepon.
            ” Halo . . .” ucap gadis itu
            ” Sasti tolong ambilkan catatan putih dimeja-ku!!” ucap orang diseberang dengan sedikit berteriak atau lebih tepatnya benar - benat berteriak tanpa permisi.
            Karena sedikit terkajut, gadis yang bernama Sasti itupun hanya bisa berkata,
            ” Hah? Apa . .. ” belum selesai ucapannya gadis diseberang sudah memotong ucapannya,
            “ Aduh, bodoh!! Aku bilang ambilkan catatan putih diatas mejaku aku butuh sekarang cepat!!!” bentak gadis diseberang sana.
            “ Iya ... iya tunggu ... aku ...” lagi – lagi gadis diseberang sana sudah memotong ucapannnya lagi , “ Jangan banyak bicara, cepat!!!” teriak gadis itu dengan suara sedikit bergetar seperti menahan marah. Tanpa ba bi bu lagi Sasti langsung melesat ke dalam sebuah kamar yang paling ujung, celingukan Ia mencari catatan yang dimaksud oleh Fasti kakak kembarnya. Akhirnya ketemu, ucap Sasti dalam hati.

~~$$~~

            “ Sasti!!! Kemari cepet!!” teriak Fasti dari kamarnya.
            Sasti yang baru menutup sekitar jam 23.00 tadi, tergeragap bangun dari tempat tidur dan berusaha untuk menyadarkan dirinya, ia menengok jam wekernya, masih jam 03.00 pagi, pikirnya. Tapi belum genap kesadarannya pulih, Fasti sudah berteriak dari kamarnya meminta Sasti untuk cepat datang, membuat Sasti yang belum sepenuhnya sadar segera berlari tanpa melihat ada kursi yang melintang didepannya .......
”BUGHHH!! Aduh . . . ” , suara bedebam benda keras, diikuti dengan suara mengaduh dari Sasti.
” Ada apa, Fas? Kok mas . . .” belum selesai Sasti bicara, Fasti sudah memotong.
“ Setrika semua baju yang ada diatas kasur itu, dan packing semuanya kedalam tas hitam dilemari!” Sasti menatap baju yang ada diatas kasur dan,  hahhh . . . sebanyak itu???, batin Sasti.
“ Apa gak bisa besok ya? Ini kan masih pagi buta. Memangnya kamu mau kemana Fas?” tanya Sasti sedikit memohon.
” Tidak bisa harus sekarang soalnya, nanti jam 04.30 aku sudah harus pergi buat praktek di Sukabumi.” ucap Fasti ringan tapi tegas.
Sasti melihat baju diatas kasur dan membandingkan waktu yang Ia miliki, hahh kalau segini banyaknya dan waktunya cuma ± 1 jam, waduh bisa gak rapi niy bajunya Fasti . . . keluh Sasti tapi cuma dalam hati. Dengan berat hati Sasti pun mengambil semua baju Fasti yang ada di kasur dan membawanya ke ruang tengah untuk disetrika. Belum sampai kakinya melangakah dari kamar Fasti tiba – tiba saudaranya itu bertanya padanya,
” Kamu mau kuliah dimana, Sas?” tanya Fasti tanpa memalingkan mukanya dari laptop Acer-nya.
Sasti yang terkejut dengan pertanyaan itu sedikit tergeragap saat menjawabnya.
            ”Hah? Eh Aku ingin sekali bisa kuliah di kedokteran seperti kamu Fas,” Jawab Sasti lembut, tapi Fasti bisa mendengar ada kesungguhan dalam suara Sasti.
” Heh? Kedokteran? Bukannya kau itu anak IPS-ya? Hehh . . ” ucap Fasti sambil melirik Sasti dari sudut matanya yang membuat Sasti tertekan karena dilihat seperti itu.

~~$$~~

Sasti tak bisa konsen selama mengikuti pelajaran hari itu, padahal ada pelajaran drama kesukaanya. Rico sahabat Sasti menyadari keanehan sahabatnya itu,
” Hai Din, ada apa dengan teman sebangkumu itu? Tumben – tumbenan pelajaran Pak Gio dia diam aja, padahalkan biasanya dia udah kayak cacing kepanasan cari perhatian.” Tanya Rico saat Sasti pergi ke perpustakaan untuk mengembalikan buku yang dia pinjam.
” Mana ku tahu, Ric. Kan yang dekat dengan Sasti bukan aku!” ucap Dina sambil mendelik pada Rico. Rico yang merasa terpojok akhirnya hanya bisa berkata ,
” iya . . . iya . . . Aku akan langsung bicara dengannya!”
” Baguslah, kan yang pacar Sasti itu kamu bukan Aku. He he he . . .” ledek Dina melihat sikap Rico yang sangat peduli dengan Sasti.
“ Apa? Apa kau bilang tadi?” tantang Rico, Dina yang dipelototin kayak gitu langsung kabur keluar kelas. Sedangkan Rico masih bengong ditempatnya memikirkan ucapan Dina sampai Ia memutuskan untuk pergi mencari Sasti.
Rico bukan orang yang bisa dibilang tampan tapi Ia mempunyai otak yang cukup encer di jurusan IPS ini. Dia terkenal dekat dengan Sasti sampai terdengar kabar bahwa mereka mempunyai hubungan yang khusus. Rico sendiri tidak ambil pusing karena ”Siapa coba yang gak mau di gosipin sama cewek cantik macam Sasti.” Begitu prinsip Rico. Tapi sebenarnya Rico memang menyimpan sedikit rasa pada gadis cantik berambut gelap itu. Ya, walaupun dia tahu bahwa perasaanya itu tak terbalas karena setiap kali Rico menyinggung hal itu didepan Sasti pasti anak itu akan tertawa dan tak pernah menganggap ucapan Rico sebagai sesuatu yang serius.

” SASTI, ayo lagi ngelamunin aku ya?” teriak Rico mencoba mengagetkan Sasti, yang berada di bangku taman sekolah sekembalinya dari Perpustakaan. Tapi bukannya tawa renyah dari Sasti yang Ia dengar tapi malah pelototan dan kepalan yang ia dapat. Melihat reaksi Sasti yang seperti itu membuat Rico sadar bahwa sahabatnya yang satu itu sedang tidak enak hati.
” Heh, maaf. Kamu kenapa sih Sas? Tidak biasanya kamu diam aja waktu pelajaran Pak Gio, terus kamu juga cemberut terus dari tadi? Cerita dong kalau ada masalah Sas.” ucap Rico pelan, tapi Sasti bisa mendengar kesungguhan dari suaranya.
” Menurut kamu, mimpi aku jadi seorang dokter itu mustahil ya?” ucap Sasti lirih....

wait the next one...

Kamis, 28 Februari 2013

“Dasar Inka gembul, Payah!!”


“Dasar Inka gembul, Payah!!”

          Lima tahun yang lalu hidupku begitu sempurna. Ada Ayah yang selalu menjagaku, ada Ibu yang selalu memanjakanku dan ada teman – temanku yang selalu membuatku merasa nyaman dengan kehadiran mereka. Aku tak pernah merasa ada yang kurang dalam hidupku, aku selalu merasa semuanya sudah sempurna, karena kupikir semuanya sudah lengkap. Sampai suatu saat aku melihat temanku begitu bahagia mempunyai seorang adik, aku mulai meras iri dengannya. Ia mempunyai teman untuk bermain, dia juga bisa membuat adiknya menjadi bahan candaan untuknya.
            Aku pun mulai berpikir untuk meminta adik pada ayah dan Ibuku, Aku merayu pada mereka akan jadi kakak yang baik bagi adikku nanti dan tak akan lupa pada kewajibanku untuk menjaganya dan kewajibanku sebagai seorang pelajar dan anak yang baik serta bertanggung jawab.
            Akhirnya 4 tahun yang lalu adikku lahir, Ia seorang perempuan. Ya, memang tak seperti harapanku yang berharap adikku seorang lelaki. Tapi tak apa yang paling penting aku sekarang sudah memiliki seorang adik yang bisa aku ajak bermain, yang bisa aku banggakan pada teman – temanku, yang bisa aku ajak cerita, Aku senang jika mengingat masa – masa  4 tahun yang lalu saat Aku melihatnya tidur terlelap dalam keranjang bayi, saat aku melihatnya menangis dalam gendongan Ibu, saat aku selalu berharap agar Ia cepat besar dan bisa bermain bersama denganku seperti adik teman – temanku yang lain.  Aku selalu berharap hari itu segera datang karena aku sudah tak sabar lagi bisa bermain – main dengannya, memberinya kejutan yang indah, menyanyikan lagu merdu bersamanya, bercerita tentang teman – temanku disekolah. Jujur aku benar – benar merasa tak sabar menunggu hari itu.
            Aku masih ingat aku pergi ke sekolah dengan malas, karena aku tak ingin berpisah dengan adikku. Dan aku sangat bersemangat saat pulang sekolah karena aku ingin segera bertemu kembali dengan adikku dengan begitu aku bisa melihatnya tertidur pulas ditempatnya, mengganggunya sampai ia terbangun. Sungguh semua itu adalah hal – hal yang sangat menyenangkan jika aku mengingatnya. Aku ingin sekali semua itu bisa terulang kemabali. Aku ingin melihatnya menguap dan mengucek – ucek matanya dengan tangan kecilnya yang imut dan menyenangkan, Aku ingat membuatnya menangis sampai Ayah dan Ibu memarahiku agar jangan selalu mengganggunya. Tapi entah kenapa hasrat untuk mengganggunya selalu saja muncul.
            Apalagi kalau wajah adikku yang imut, cute, chubby - chubby, gimana gitu.Itu Membuatku ingin selalu mencubitnya, menganggunya, walau aku harus dimarahi Ibu, hal itu tak membuatku merasa jera untuk mengganggunya.
            Hari demi hari telah aku lewati sambil melihat adikku terus tumbuh menjadi dewasa, ya dalam arti kata nggak langsung segede aku. Tapi maksudnya menjadi lebih besar dari ukurannya semula gitu, ( loh kok ukuran sih, emang adik aku apa’an ya?) Udah‘ah mending ceritanya aku lanjutin lagi ya. Adik aku mulai dewasa dan dia sudah bisa mulai bicara, kalian tahu bicaranya waktu itu lucu sekali membuatku merasa bahwa dia hanya membuat – buat nada bicaranya seperti itu saja. Tapi kata Ayah dan Ibuku suara adik memang seperti itu karena dia memang masih kecil dan belum bisa bicara dengan baik seperti kami.(masih cadel gitu maksudnya, he he he)
            Semuanya masih terasa nyaman dan menyenangkan bagiku sampai suatu saat aku merasa adikku sudah berbeda, Ia tak seperti biasanya. Ia mulai terasa terlalu aktif dan aku juga merasakan bahwa pukulannya yang ia arahkan kepadaku terasa begitu menyakitkan. Aku mengadukan ini pada orang tuaku tapi mereka hanya berkata,“ Yah, itu sih salah kamu sendiri lha wong adik kamu lagi main enak – enak kamu malah, gangguin dia.” Aku hanya bisa mendengar perkataan Ayah dan Ibuku, karena yah bisa dibilang mereka benar setiap kali adikku sedang asyik bermain aku yang tak diundang langsung saja mengganggunya dan membuat marah dan bahkan sampai membuatnya menangis aku sih tak pernah merasa bersalah karena bagiku itu adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. Tapi apakah mungkin hanya karena kejahilanku selama ini malah membuat adikku menjadi seperti itu? Aku memang tak begitu tahu mengenai psikologi anak karena itu memang masih jauh diatasku untuk bisa aku pahami.
            Tapi menurutku hal seperti itu tak mungkin bisa membuat seorang anak kecil langsung berubah sifat dan sikapnya. Menurutku itu adalah sesuatu hal yang tak masuk akal. Aku masih bingung dengan sifat adikku yang tiba – tiba saja sekarang sudah terasa jauh lebih aneh dibanding  kondisinya sebelumnya.
            Keesokan harinya aku bertanya pada teman – temanku apakah adik mereka ada yang seperti adikku mulai dari sikapnya yang tiba – tiba jadi pendiam sampai sikapnya yang sekarang berubah jadi begitu sensitif, mudah marah, dan bahkan sering memukul.
Dari semua teman – temanku tak ada dari mereka yang merasa adik mereka seperti adikku. Aku bertanya pada mereka apa mungkin itu semua karena dia sekarang sudah mulai tumbuh menjadi dewasa? Tapi semua teman – temanku menjawab adik mereka tak mengalami perubahan yang drastis seperti adikku.
Aku tak pernah merasa ada yang salah dengan semua ini sampai suatu hari, aku melihat adikku bermain lumpur tapi anehnya saat anak dari tetanggaku yang seumuran dengannya mendekatinya, Ia malah marah – marah pada anak itu. Aku yang melihat hal itu langsung menghampiri mereka dan bertanya apa yang terjadi pada mereka tapi jawaban yang aku dapatkan malah membuatku semakin bingung dengan sikap adikku yang satu ini. Bukannya menjawab pertanyaanku adikku malah lari seperti orang yang ketakutan sambil menautkan kedua tangannya. Aku pun bertanya pada anak tetanggaku, dan jawabannya malah semakin membuatku bingung, karena anak itu menjawab Ia hanya ingin bermain dengan adikku tapi adikku malah marah – marah dan mengatakan bahwa anak tetanggaku itu adalah orang asing yang tak boleh didekati.
Aku bingung karena setahuku,Nisa anak tetanggaku itu adalah teman sepermainan Inka adikku dan bukan kali ini saja mereka bermain, dan mana mungkin adikku tak mengenali temannya lagi seperti tadi. Aku mengadukan ini pada orang tua – ku tapi mereka hanya menganggap ini adalah proses menjadi orang yang lebih dewasa seperti aku dulu. Dan mengenai masalah Inka dan Nisa mereka hanya menjawab mungkin adikku itu cuma bercanda dengan Nisa, tapi Nisanya saja yang menganggap hal itu terlalu serius.
Tapi bagiku semua ini terasa sangat aneh, sampai akhirnya tiga tahun yang lalu aku menjemput adikku yang sudah masuk play group atau kalau dalam bahasa Indonesianya biasa dipanggil kelompok bermain. Aku mengintip suasana kelas dari kaca samping ruangan tapi yang aku lihat malah semakin membuatku heran dan terkejut. Adikku, Inka sedang duduk sendirian di sudut kelas padahal teman – temannya yang lain sedang menggambar bersama di tengah kelas sambil membentuk suatu kelompok.
Aku bertanya pada guru yang mengajar pada jam pulang, aku menghampirinya dan bertanya,
Nyuwun Sewu Bu, Saya kakaknya Inka anak yang dari tadi duduk dipojokan kelas.”
“ Oh kakaknya Inka ya? Gini lo mbak tadi itu bukannya berbuat gak adil sama Inka tapi kan adiknya mbak tadi bikin masalah sama teman yang lain makanya tadi Inka-nya  Saya hukum.”
“ Nggak kok Bu, Saya nggak mau nanya soal itu, saya cuma mau nanya. Ibu ngerasa ada yang aneh nggak sam Inka?”
Ekspresi wanita paruh baya itu terlihat terkejut, tapi dia mencoba memperbaiki ekspresinya dan berkata padaku,
” Mbak Saya harap mbak jangan tersinggung atas jawaban saya nanti, “
            “ Iya, Bu.”
            “ Begini menurut Saya dan dari apa yang saya lihat sepertinya adik Mbak itu kena Autis.”
            Bagaikan mendengar samabaran petir tepat disamping telingaku hal itu sangat mengejutkan dan membuat ku tak bisa tidur tenang di malam itu.
            Keesokan harinya aku melihat adikku, dan mengingat kembali penjelasan Ibu Guru Inka tentang apa itu Autis. Autis adalah salah satu cacat mental yang harus digaris bawahi berbeda dengan idiot berbeda. Tidak sama karena Autis membuat si penderita menjadi hiperaktif, sensitife dan selalu merasa curiga. Aku takut mengatakan ini pada orang tuaku karena takut dianggap mendoakan adikku tentang yang tidak – tidak tentu saja tidak pikirku.
            Aku masih ingat aku selalu melihat kelakuan adikku yang semakin hari semakin aneh dan membuatku merasa semakin tidak enak jika mengingat perkataan Guru Inka waktu itu, aku masih takut mengingatnya aku takut jika hal itu adalah sebuah kenyataan karena aku sempat mengatakan pada ayahku tentang anak autis di tv dan ayah berkata, “ Ih amit –amit, jangan sampai kita punya anak kayak gitu ya Bu?” Ucap Ayahku sambil memandang Ibu dan Ibu juga memandang ayah dengan tatapan yang ngeri. Aku takut jika semua perkiraanku ternyata adalah suatu kebenaran aku takut jika semua yang aku khawatirkan menjadi suatu kenyataan yang akhirnya akan membuat semuanya sakit. Dan waktu itu aku melihat adikku disudut ruangan sambil bermain boneka, sekilas tak ada yang berbeda darinya tapi saat ada orang asing yang mendekatinya maka Ia akan marah -  marah bahkan Ibu juga pernah mendekatinya saat issa sedang  sibuk bermain dan Ibu dibentak dan diusir olehnya tapi Ibuku tak merasa curiga sama sekali dan bahkan menganggap hal itu adalah sesuatu  yang biasa dilakukan oleh anak kecil lainnya yang merasa terganggu jika,ada orang lain yang mendekatinya saat sedang asyik bermain.
            Tapi bagiku hal itu adalah satu lagi alasan yang menambah kecurigaanku selama ini. Semua perkiraanku yang selama ini sudah aku tutup dan aku coba hiraukan, tapi malah semakin kuat dan semakin mengusikku dan membuatku semakin gundah. Oh Tuhan, jangan biarkan aku memiliki perasaan ini jika ternyata ini tidak benar tapi jika ini memang benar kumohon, berikan aku jalan untuk memberitahukan ini pada orang tua – ku.
            Hingga sampai beberapa bulan yang lalu, aku benar – benar tak sanggup mengatakan ini pada orangtua – ku tapi mereka malah menganggapku  berbohong dan hanya menganggapku membual. Mereka bahkan benar – benar menganggapku mendoakan yang tidak – tidak tentang adikku. Aku pun akhirnya tak berani mengungkit – ungkit hal itu lagi.
            Sampai pada suatu hari, ada salah satu guru dari sekolah adikku, guru yang waktu itu sempat berbicara denganku saat aku menjemput adikku, yang datang kerumah dan untuk menyampaikan sesuatu. Yang kemudian aku tahu membuat Ayah dan Ibu memandangku yang ada di ruang sebelah dengan tatapan yang aneh dan tak percaya. Malam harinya Ibu memintaku untuk ke kamarnya untuk membicarakan sesuatu,
                Ndok, kamu tahu apa yang diomomgin sama Bu Indri tadi?” Aku deg – degan tapi aku menggelang untuk menjawab pertanyaan Ibu.
            “ Dia ngomongin hal yang sama kayak kamu waktu itu, dan dia memberi Ibu alamat dokter yang biasa nanganin kasus kayak begini.”
Aku tak bisa bilang apa – apa aku hanya syok. Keesokan harinya ayah, ibu dan adikku berangkat ke Semarang untuk ketemu Dokter yang waktu itu diberi tahu sama Ibu Indri. Malamnya mereka sudah pulang Ayah sedang memasukkan mobil ke dalam garasi saat Ibu menggendong adikku ke dalam rumah. Dan malam itu menjadi malam yang tak pernah terlupakan untukku karena pada malam itu semua pertanyaan yang selama ini menggelayut di leherku telah terjawab dan semua perkiraan dan dugaanku benar semua yang aku khawatirkan menjadi kenyataan. Aku memandang ayah dan ibu dengan air mata yang tergenang dipelupuk mataku.

~~$$~~

Dan sekarang aku sedang memandang adikku yang terbaring lemah karena tertabrak mobil beberapa hari yang lalu saat ia ketakutan melihat kucing dan lari melewati  pagar rumah yang terbuka karena ibu sedang pergi belanja.
Aku melihatnya terbaring lemah tak berdaya dengan selang infus yang menancap dikulit lembutnya, Aku sedih melihatnya seperti ini entah mengapa perasaanku benar -  merasa tidak nyaman saat melihat keadaanya seperti ini, aku takut kehilangan dia, aku takut akan berpisah selamanya dengannya. Seperti apapun dia, apapun sakit yang Ia derita yang aku tahu hanya satu hal, Dia adikku dan wajah putih polos yang tertidur pulas didepanku itulah yang dari dulu sampai sekarang aku panggil ‘adik’ dan selamanya akan begitu tak akan ada yang membuatku berpisah darinya ataupun merasa jijik atau benci padanya. Tak ada.
Dan tak ada yang membuatku menyesal, meminta seorang adik pada orangtua – ku, dan tak ada yang bisa menggantikan Inka untuk jadi adikku karena aku sudah terlanjur menganggapnya satu - satunya adikku, adikku yang istimewa, adikku yang selalu ceria, dan adikku yang selalu membuatku merasa bahagia didekatnya.
Aku melihat adikku sekali lagi di tempat tidur itu dan aku melihat wajah yang sama seperti 4 tahun yang lalu saat Ia masih bayi. Aku tersenyum dan merasakan ranjang bergoyang karena ia mencoba bergerak dan mulai membuka matanya aku melihat mata hitam bening dibalik kelopaknya, mulai terlihat, Ia membuka mulut dan hendak mengatakan sesuatu yang tak asing di telingaku, “ Kakak . . . Ingka ngompong.” Apa? Dasar Inka. Selalu saja menggemaskan,
Dasar Inka gembul, Payah.



Fakta tersembunyi dibalik Queen Seondeok, Lady Mishil dan Cleopatra


Fakta tersembunyi dibalik
Queen Seon Deok, Lady Mishil dan Cleopatra


Dibalik segala kesuksesan yang ada pada serial berlatar belakang seaguk atau kerajaan di Korea pada jaman dahulu ini, The Great Queen Seon Deok. Serial ini memiliki cerita yang berbeda dengan sejarah yang aslinya. Fakta 1 adalah dalam sejarah aslinya Queen Seon Deok memiliki 4 pendamping (yang sayangnya aku nggak bisa ngasih tau kalian siapa aja suaminya itu) tapi dari ke semuanya itu tak ada yang menghasilkan keturunan lelaki dari Queen Seon Deok.
Fakta ke-2nya tentang Lady Mishil. Kalau Queen Seon Deok menikah dengan 4 pria, maka rivalnya, Lady Mishil. Ia menikahi lebih dari empat pria, yah walaupun yang terkenal hanyalah Bangsawan Se Jong dan Bangsawan Seol Won. Tapi ini terjadi dalam satu pernikahan lho, nggak kawin cerai gitu kayak jaman sekarang. Dan walaupun begitu, keduanya tunduk sama Lady Mishil (ahhh . . . benar2 ni dua cowok payah!!!) dan gak ada satupun diantara mereka, yang berniat untuk meninggalkan Lady Mishil walaupun hati mereka ingin memiliki Lady Mishil dengan seutuhnya.
Wah, mengetahui hal ini dapat kita lihat bahwa pada jaman dahulu poliandri itu benar – benar ada ya, dan lagi ditambah fakta ke-3 yaitu tentang Ratu Cleopatra yang juga terkenal sebagai seseorang yang mampu membuat para kaum adam takluk padanya.
Sebenarnya aku berharap kalau Queen Seon Deok tak akan seperti Lady Mishil atau Ratu Cleopatra tapi setelah tahu tentang sejarah aslinya aku jadi syok, tapi kalian jangan ill feel ama ni 3 cewek dulu. Karena kesamaan latar belakang pada ketiganya juga harus kita maklumi, dimana mereka harus kehilangan orang yang mereka cintai karena keadaan yang tak memungkinkan mereka untuk bersama. Dan hal itu membuat mereka sulit untuk jatuh cinta atau memantapkan hati pada seorang pria, karena mereka takut untuk kehilangan lagi.
Dan satu fakta lagi tentang mereka adalah para wanita ini adalah wanita hebat yang berani bangkit dari keterpurukkan mereka dan dengan berani menantang dunia. Dan dua diantaranya berhasil menjadi Ratu wanita pertama di tempat mereka berasal masing – masing. Kita harus dapat mencontoh kegigihan mereka untuk bertahan niy, tapi jangan contoh perlakuan mereka pada laki – laki lho itu nggak baik. Saranku adalah ambil pelajaran – pelajaran berharga tentang kegigihan mereka untuk tetap bertahan.
 Nah pembahasan untuk wanita hebat ini sampai ini aja, see you!!!


dari beberapa narasumber, ini adalah tulisan iseng aku saat masih SMA dulu:)