Senin, 08 April 2013

Kuliah buat Aku

Kuliah itu...
Aku bisa ketemu orang baru, hidup mandiri nan jauh dari orang tua
Kuliah buat aku itu, mendewasakan diriku...

Kuliah itu...
Gerbang, gerbang buat segala hal baru...teman, hidup, dan pengalaman yang baru
Kuliah buat aku itu, gerbang menuju sesuatu yang lebih baik lagi..

Kuliah itu...
Waspada, waspada buat sesuatu yang mungkin nggak seperti yang kamu harapkan
Kuliah buat aku itu, penuh dengan kewaspadaan kalau kamu nggak dewasa dalam ngadepinnya..

Kuliah itu...
Menyenangkan, sumpah!! Nggak seperti sekolah, yang penuh jadwal kuliah itu lebih longgar dan nggak melulu itu-itu aja...
Kuliah buat aku itu, kamu harus tahu kapan bisa have fun kapan kamu harus holding back...

Tapi semenyenangkan apapun kuliah itu, aku selalu inget kalau abis kuliah ini...
aku nggak akan pernah bisa menjadi sama seperti sekarang...

karena masa setelah kuliah, adalah masa dimana aku akan sadar bahwa dunia itu kejam nggak seindah masa-masa kuliah...
Aku cuma berharap aku sudah, cukup mendewasakan diriku dalam masa itu tanpa harus kehilangan jati diriku sebagai mahasiswa...

Selasa, 02 April 2013

Pak SBY dengar saya...

Mungkin ini sedikit terlambat, tapi saya benar-benar tak habis pikir...

Pak SBY, Bapak tahu? Saya adalah salah satu orang yang saat pertama kali Bapak muncul, percaya bahwa Bapak-lah orang yang bisa membawa perubahan pada bangsa ini...

Dengan semua, ketenangan Bapak menghadapi semua masalah yang muncul diawal masa jabatan bapak
Saya berpikir, " Aku telah memilih orang yang tepat untuk jadi Presiden"

Saat semua orang mulai menjelekkan Bapak, saya masih percaya bahwa anda-lah yang terbaik dibanding yang lain,
Saat semua orang mulai bicara untuk melawan Bapak, saya masih percaya bahwa Bapak punya alasan untuk semua tindakan yang Anda ambil,
Bahkan ketika terjadi konflik dengan Anas, saya masih percaya bahwa apa yang diberitakana hanyalah sebuah ispan jempol belakang atau dibesar-besarkan saja...

Tapi, ketika akhirnya pada tanggal 30 April kemarin Bapak menerima jabatan sebagai Ketua Umum PD...
Saya benar-benar tidak bisa membantah bahwa apa yang Anda lakukan tidak masuk diakal bagi saya...

Untuk apa? Kepentingan partai? Kekuasaan? Entahlah Pak...
Pada akhirnya saya benar-benar kecewa ketika Bapak memutuskan untuk mengambil tanggung jawab itu ketika bapak sendiri, masih menjabat sebagai seorang Presiden...

Menduakan RAKYAT? Kenapa?

Tapi, walaupun saya kecewa...saya memutuskan untuk tetap percaya Bapak sampai masa jabatan Anda berhasil...
Karena saya-lah yang memilih Bapak...jadi saya akan bertanggung jawab atas keputusan yang telah saya ambil...

Ini hanya curahan hati seorang rakyat pada presidennya, 

Rabu, 27 Maret 2013

nulis vs nilai

nulis itu butuh feel
kalau nggak ada feel, maka nggak akan ada tulisan yang dihasilin

tapi kalian tahu
hal ini berlaku buat fiksi ya..
kalau buat tugas jangan nanya meski nggak ada hasrat sama sekali
tuh tugas tetep bakalan jadi kok...

dan ini dikerjain tanpa feel ya...
cuma motivasi, motivasi buat dapet nilai
he he he

Selasa, 19 Maret 2013

Lebih sakit



Aku tidak tahu apa yang akan terjadi
tapi apa yang akan terjadi biarlah itu menjadi misteri
aku tak pernah sadar bahwa ada hal yang lebih menyakitkan

lebih menyakitkan dari melepasmu
lebih menyakitkan dari meninggalkanmu
lebih menyakitkan dari hanya melihatmu
lebih menyakitkan dari kau khianati

Aku sadar hal yang paling menyakitkan untukku
adalah mencintaimu...

Jawab Aku

Siapa aku dimatamu?
Aku itu Apa dimatamu?
Bagaimana aku dimatamu?
Dimana aku dimatamu?

Aku tak terlihat
Aku tak pernah ada
Aku tak pernah kau dengar

orang bilang padaku kau begitu
tapi aku masih percaya padamu
orang mulai berteriak aku bodoh 
tapi aku dengan, kebodohanku masih percaya padamu
orang mulai jengkel dan meninggalkanku
tapi aku sadar, disini cukup ada kau

Namun aku mulai berpikir
Apakah semua rasa sakit ini adalah hal yang lumrah?
Apakah mencintaimu memang akan menimbulkan sakit seperti ini?
Aku mulai bertanya
Apakah semua ini memang jalan yang benar?
Hei, apa kau mau menjawabnya?



Selasa, 12 Maret 2013

" Aku bisa....Fast" part 2 (end)


lihat, cerita sebelumnya :)


” Menurut kamu, mimpi aku jadi seorang dokter itu mustahil ya?” ucap Sasti lirih
Rico sedikit terkejut mendengar ucapan sahabatnya itu, tapi akhirnya Rico menanggapi juga pertanyaan sahabatnya itu,
” Tidak, kau tidak cocok.” ucap Rico datar
” Hah? Huffh!! Iya ya, mungkin aku memang tidak cocok.” ucap Sasti kecewa mendengar ucapan Rico sahabat, yang sangat Ia percaya itu.
” Iya, kamu cocoknya jadi istri aku aja!” ucap Rico sambil membusungkan dada.
Sasti yang baru mengerti tentang situasinya hanya bisa meringis.
” Rico, aku serius!!” ucap Sasti lirih, menatap Rico yang tertawa karena reaksinya tadi. Dipandang seperti itu sama Sasti membuat Rico segera sadar diri dan bersikap lebih serius.
” Maaf, maaf, ya sudah sekarang kita serius. Memangnya kenapa kamu bicara seperti itu? Hah?” ucap Rico sambil menatap Sasti yang duduk disampingnya.
” Fasti, dia ngomong ke Aku kalau nggak seharusnya aku mengambil jurusan kedokteran karena aku anak IPS ditambah kami kan bukan orang kaya, jadi tak akan sanggup membiayai kuliahku di jurusan kedokteran, kamu kan tahu kalau dia dapat beasiswa.” cerita Sasti panjang lebar.
” Heh? Kamu nggak bilang kalau kamu bisa nyari beasiswa kayak dia?” tanya Rico yang mulai mengerti duduk permasalahannya.
” Udah, tapi dia bilang, kalau pakai SPMB itu akan makan banyak biaya sedangkan buat makan sama biaya sekolah aku saja kita harus kerja paruh waktu.”
” Ya, tapi tidak ada yang sulit kalau kamu mau berusaha dan menganggap hal itu sesuatu yang mudah. Percaya deh!!” ucap Rico berapi –api.
” Fasti bener Ric, Fasti itu jenius tidak seperti aku yang dapat ranking 19 dikelas saja sudah Alhamdulillah.” ucap Sasti makin pelan.
” Sas . . . ” belum selesai Rico bicara tiba – tiba bel masuk sudah berbunyi. Sasti langsung berdiri dari bangku taman dan menuju kelas mereka.

~~$$~~

Rico mengenal Sasti sejak SMP tapi mereka menjadi dekat saat mempunyai kelas yang sama pada kelas 8, dan dari situ Rico tahu bahwa Sasti mempunyai kembaran yang jenius yaitu Fasti. Fasti memang jenius saat mereka masih kelas 8 Fasti sudah duduk di kelas 11 karena selalu loncat kelas dari SD. Walaupun Fasti selalu lebih dalam segala hal di banding Sasti, tapi Rico tahu bahwa sahabatnya itu tak pernah merasa cemburu ataupun iri atas semua prestasi ataupun pencapaian Fasti.
Bagi Sasti kebahagiaan Fasti adalah kebahagiaannya juga. Rico mengerti bahwa keinginan Sasti yang ingin menjadi dokter dikarenakan Ia tak ingin berpisah ataupun menjauh dari Fasti yang sekarang sudah mulai menjauh dan berubah dari Fasti yang Ia kenal dulu. Rico tahu itu, dan disinilah sekarang dia berdiri. Di sebuah yayasan, mencoba mencari beasiswa untuk Sasti, dengan berbekal rapot serta catatan tentang prestasi Sasti. Tanpa sepengetahuan Sasti sendiri Ia mencoba, mencari beasiswa untuk sahabatnya itu.
Rico masuk ke dalam gedung ber – AC itu dan berjalan menuju resepsionis, bertanya dimana tempat Ia bisa mendaftarkan diri sebagai calon penerima beasiswa. Resepsionis itu meminta Rico mengisi formulir dan menaruhnya kedalam map yang disediakan, bersama catatan prestasi dari calon penerima beasiswa. Saat mengumpulkan map itu ditempat yang ditujukan oleh si Resepsionis yang ramah itu, Rico terkejut bukan main saat melihat tumpukan map  yang menggunung.
Rico mencoba melihat map teratas dan ia pun langsung miris melihat catatan prestasi dan nilai orang itu jika dibandingkan dengan milik Sasti. ”Aduh kalau kayak gini beneran mustahil-deh gelar dokter buat Sasti huffhh, . . . Heh bangun Rico!! kalau kamu putus asa siapa yang bakal kasih semangat buat Sasti dong? Saudaranya aja udah bikin Sasti down masa aku harus ikut – ikutan sih? Semangat Rico semangat!” Akhirnya Rico menaruh map itu di urutan paling atas sambil membaca basmalah.
” Rico!!! Lama banget sih, ngapain aja didalam? Hah?” tanya Radit kakak Rico yang lebih tua 4 tahun darinya. Radit memang terlihat berbeda dari Rico yang cenderung terlihat cuek dalam berpenampilan cenderung berbalik 180° dengan Radit yang trendy dan maskulin, dengan badan yang atletis, rambut berjambul dan mata yang tajam.
” Maaf kak, kan Ak . . .” belum selesai Rico bicara Radit sudah memotongnya.
” Terserah, ayo cepat naik!”
Tanpa diperintah untuk kedua kalinya Rico pun segera naik ke jok belakang motor Radit dan dalam sekali gas mereka berdua sudah tak terlihat dalam pandangan. Soalnya knalpot motornya tebel banget, he he he . . .

~~$$~~

Fasti mencoba membuka beberapa catatan pasien di Puskesmas desa Pulung, Sukabumi. Saat sedang membaca catatan itu tiba – tiba matanya menajam saat melihat nama Dara Sastina, yang membuatnya teringat akan saudaranya Adriana Fitri Sastiana, alias Sasti. Entah mengapa tiba – tiba Ia merasa rindu dengan saudaranya itu, rindu dengan kecerobohan Sasti, tawanya yang renyah. Ia tersenyum mengingat semua kekonyolan Sasti tapi tiba -  tiba Ia tersadar bahwa tak sepantasnya Ia merindukan Sasti.
Fasti hanya ingin Sasti memilih jalannya sendiri bukan mengikuti jejaknya terus. Ia sudah senang saat melihat Sasti memilih jurusan IPS bukan IPA seperti dirinya, karena Fasti pikir akhirnya anak itu punya jalannya sendiri bukan seperti dirinya. Tapi harapan itu sia – sia saat tahu Sasti bermimpi menjadi seorang dokter. Fasti tak mengerti jalan pikiran Sasti kalau dia memang ingin menjadi seorang dokter maka seharusnya sejak awal Ia memilih IPA, tapi kenapa Ia memilih IPS?
Sejak dulu Fasti dan Sasti memang selalu identik sampai akhirnya mereka terpisah karena Fasti loncat kelas sedangkan Sasti tidak. Tapi hal itu tak mengurangi kekompakan mereka sampai akhirnya Fasti mulai merasa muak dengan sikap Sasti, yang selalu berusaha identik dengannya. Fasti sendiri berpikir bahwa seharusnya mereka sudah saatnya berpisah dan memiliki kehidupan masing – masing.

~~$$~~

Ujian nasional sudah selesai, saatnya sekarang buat anak kelas 12 untuk memikirkan universitas dan fakultas mana tujuan mereka nanti.
Sasti sedang termenung di teras cafe tempat Ia bekerja. Cafenya sendiri tutup lebih cepat pada pukul 15.00 tadi. Tapi entah kenapa ia enggan pulang, toh dirumah tidak ada orang yang akan menunggunya atau ditunggunya. Ia tak menyadari kedatangan Rico yang sekarang tinggal beberapa langkah darinya.
” Hai, ngelamun apa, sore – sore gini?” tanya Rico setelah duduk disebelah Sasti, yang membuat Sasti terlonjak  karena tak menyadari kedatangan Rico dari tadi.
” Rico? Aku tidak sedang berhalusinasi kan? Sejak kapan kamu ada disini?” tanya Sasti, bertubi – tubi yang bingung dengan kehadiran secara tiba – tiba.
” Neng, kalau tanya satu – satu ini, kenapa? Yah, salah sendiri kenapa dari tadi ngelamun. Sampai kedatangan aku aja, kamu nggak sadar.”
“ Masih sore ini nggak papa dong, aku bing . . .”
” Ayo ikut aku!!” Rico bicara memotong ucapan Sasti dan menyeret anak itu meninggalkan cafe yang sudah tutup sejak 1 jam yang lalu itu.
” Eit, tunggu! Kita mau kemana Ric?” tanya Sasti tergelak, kaget dengan tarikan Rico yang tadi.
” Udah ayo naik, kau naik saja dulu.” Ucap Rico sambil memberikan helm pada Sasti. Sasti tidak memberikan interupsi apapun lagi dan memilih untuk mengikuti ucapan Rico saja.


Rumah Rico memang tak terlalu besar tapi rumah ini jauh lebih baik jika dibanding kan dengan rumah si kembar Fasti – Sasti. Rumah dengan gaya minimalis modern yang baru saja dirombak beberapa bulan sebelumnya ini, memang tampak lebih indah karena ada sentuhan seorang Tante Rina, Ibu Rico yang merawat rumah ini. Berbeda dengan  Rumah Fasti – Sasti yang mereka sendiri saja tak pernah tersentuh tangan seorang Ibu sejak usia 5 tahun apalagi rumah mereka setelah selama itu.
Fasti – Sasti memang mempunyai Ayah tapi beliau telah meninggal sejak mereka berusia 11 tahun dan sejak itu mereka harus berjuang sendiri untuk hidup dan sekolah. Mungkin karena itu Fasti jadi bersikap pesimis dan lebih dingin dalam menghadapi dunia. Baik kita kembali ke cerita.
” Untuk apa kita disini? Ini kan, rumah kamu Ric,” tanya Sasti bingung
” Udah, jangan banyak tanya ayo ikut!” ucap Rico sambil menarik Sasti masuk ke dalam rumah. Didalam rumah, sudah ada Kak Radit yang memang menunggu mereka dari tadi. Sasti sedikit terkejut dengan kehadiran cowok berjambul itu diruang keluarga, wajahnya bersemu merah saat mata Sasti dan Kak Radit saling bertabrakan. Rico tahu itu, ada sedikit nyeri di dadanya tapi tak dihiraukannya.
” Nih, Sasti kak! Selamat belajar Sasti,” ucap Rico pada Sasti berpaling pada Kak Radit. Dan meninggalkan mereka berdua.
” Hah? Tapi Ric.. . .” belum selesai Sasti bicara, Kak Radit sudah memotongnya dan memintanya  untuk duduk. Dan sejak itu setiap selesai kerja Sasti sudah dijemput Rico untuk belajar bersama kakaknya. Sejak itu Sasti semakin mengerti tentang dunia IPA dari kak Radit yang memang dulu mengambil jurusan IPA saat SMA. Sementara Sasti belajar dengan orang yang Sasti suka dari dulu. Rico mencari Yayasan yang mau memberikan beasiswa pada Sasti dengan semua catatan prestasi yang memang tidak terlalu bagus.
Sebulan sudah berlalu hari ini adalah hari dimana semua pelajar SMA kelas tiga harus berkutat kembali dengan ujian setelah sebelumnya UN sekarang mereka harus berusaha dalam SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru). Rico dan Sasti mendaftar di Universitas yang sama walaupun berbeda Fakultas karena Rico lebih memilih Fakultas Tekhnik Mesin.
” Tegang Sas, tadi?” tanya Rico saat mereka janji ketemuan di cafe tempat Sasti kerja.
” Iya sih, tapi karena sebulan ini sudah belajar sama Kak Radit aku jadi gak terlalu kesulitan deh. Kenapa sih kau tidak ikut belajar kan kita bisa belajar bertiga?”
” Nggak, buat apa? Oh iya, Fasti udah balik dari Sukabumi?”
” Belum, aku bingung gimana kalu dia tahu aku tetap memilih Kedokteran?”
            ” Tenang aja, kan belum tentu kamu diterima.” ucap Rico datar, menggoda Sasti.
” Hah? Uh, payah!”
” Ya udah, kerja sana. Udah sore aku mau pulang.” Ucap Rico, dan melangkah pergi.
Tidak terasa sudah tiga hari Sasti mengikuti Tes SPMB, dia sedang menuju tempat kerjanya saat melihat Fasti terlihat sedang berbicara dengan pegawai cafe. Dia mengurungkan niatnya untuk kesana. Tapi saat akan berbalik ada tangan yang mencekalnya dan saat berbalik Ia mendapati Fasti sedang menatapnya tajam dan dibelakang Fasti Rico sedang berdiri menyender pada tembok,
” Aku dengar kau memilih fakultas kedokteran?” tanya Fasti datar.
” I . . iy . . .iya Fas,” Jawab Sasti tergagap karena takut kemarahan saudaranya itu dan benar saja dugaan Sasti,
” Apa? Aku tak mengerti dengan jalan pikiran kamu Sas???” tanya Fasti mencoba menahan amarah.
” Kita sudah besar, sudah waktunya buat kita untuk memilih jalan kita masing – masing Sas! Kau tahu menjadi seorang dokter bukanlah hal yang mudah dilakukan oleh seorang IPS seperti kamu! Dan la . . ”
” Cukup! Tidak seharusnya kau bersikap seperti ini pada Sasti! Dia Cuma ingin bersamamu itu saja, kenapa kau tak pernah mau mengerti itu?” Ucap Rico dari tempatnya berdiri.
” Aku muak, dengan semua ini! Kenapa kau tak pernah mengerti? Aku tak ingin bersamamu karena aku terlalu takut  . . . AH  TERSERAH!!!!” ucap Fasti tertahan. Ia langsung pergi dan tak menyadari saat sebuah motor melaju cukup kencang kearahnya dan BRAKKK, motor itu melesat sedang Fasti tergeletak di pinggir jalan dengan berlumuran darah. Sasti panik Ia langsung menangis histeris meminta pertolongan sambil memeluk kembarannya itu.

Sasti melihat Fasti sedang ditangani di UGD saat Rico dan Kak Radit masuk ke runag tunggu.
” Bagaimana keadaannya, Sas?” Tanya Kak Radit matanya kosong menatap ruangan tempat Fasti ditangani, matanya kelam terlihat kesedihan yang sangat dalam.
” Sas, kamu minum dulu ya? Ayo duduk.” ajak Rico pelan sambil menyodorkan segelah teh hangat dan mengajaknya duduk. Tapi Sasti malah menapik teh yang diberikan oleh Rico. Radit terperangah dengan kejadian itu tapi Rico jauh lebih terpukul dari Radit. Ia tertegun menatap mata Sasti yang kelam dan terlihat kebencian disana. Rico takut.
” Ada apa, Sas? Ke .  .ke . .kenapa?” ucap Rico gugup.
” Ini semua adalah salahmu.” Ucap Sasti bergetar mencobs menahan amarah.
” A . .a . .apa?”
” Kau tahu Ric, SEHARUSNYA AKU TAK MENGIKUTI SEMUA YANG KAU KATAKAN. Seharusnya aku tak pernah bermimpi menjadi seorang dokter, seharusnya aku tak pernah belajar bersama Kak Radit.”
” Tapi ka . . ”
PLAKK, sebuah tamparan keras mendarat dipipi kiri Rico.
” Dia saudaraku satu – satunya Ric, dan seharusnya Ia tak terbaring disana. Dan aku memang tak pantas menjadi seorang dokter, aku IPS, miskin, bodoh, lalu apa yang aku miliki?” tanya Sasti menggantung
” Hanya dia yang aku miliki.” Jawab Sasti sambil menunujuk ruangan tempat Fasti ditangani.
” Sekarang. PERGI!! PERGI DARI SINI!!” usir Sasti yang terlihat tak main – main. Radit yang dari tadi diam saja mencoba menenangkan Sasti dan meminta Rico pergi dengan isyarat matanya.

~~$$~~

5 Tahun kemudian . . .

” Aduh Sas, kamu itu bodoh atau gimana sih? Masa kuis kayak gini aja, kamu cuma dapat C?” tanya Fasti heran pada kembarannya itu.
” Mau gimana lagi, emang dapatnya segitu kok!” jawab Sasti lemah
” Kalu kayak gini, bisa – bisa kamu nggak lulus - lulus.” Hardik Fasti
” Udah nggak salah Sasti dong, Sasti kan sudah berusaha.” Ucap Radit membela Sasti. Sasti tersenyum karena merasa dibela.
” Kau itu selalu membelanya!!”
” Aku kan cuma . . . ”
” Cari muka?” tanya Fasti retoris
” He he he . . .” Radit salah tingkah, mendapat serangan seperti itu.
“ Ya sudah , ayo kita pergi. Biarin Sasti belajar.” Ajak Fasti dan menekankan kalimat terakhir sambil melotot pada Sasti.

Lima tahun berlalu dan semuanya sudah berubah. Dulu Sasti kira Ia tak akan pernah bisa menjadi seorang mahasiswa kedokteran tapi lihat dimana dia sekarang Ia menjadi salah satu mahasiswa di salah satu Universitas ternama di Indonesia. Yah, walaupun sempat menunda kuliah selama setahun untuk mencari beasiswa tapi itu tak jadi soal karena Sasti mendapat dukungan penuh dari kembarannya Fasti.
Setelah kecelakaan itu Fasti sadar bahwa tak seharusnya Ia bersikap seperti itu pada Sasti. Toh Ia juga sebenarnya tak ingin bersama Sasti karena Ia takut akan mengalami sesuatu yang lebih sakit jika statu hari mereka akan berpisah. Dan sekarang Fasti bekerja di Rumah Sakit ternama di kota itu
Ternyata Radit adalah teman kuliah Fasti dan sejak pertama kali melihat Fasti di kampus Ia sudah menaruh hati pada gadis itu, tapi Fasti tetap dingin padanya. Radit tahu bahwa ternyata Fasti itu kembar dan kembarannya adalah Sasti sahabat Rico. Karena itu Radit mau membantu Sasti belajar, cari muka gitu maksudnya.
Sasti tahu dari Radit beberapa bulan yang lalu, kalau ternyata beasiswa yang ia dapatkan 4 tahun yang lalu ternyata dari usaha Rico. Dan saat Sasti mengusir Rico dirumah sakit sebenarnya Rico sedang sakit, dan Rico datang ke cafe siang itu untuk menjelaskan semuanya pada Fasti tapi dia terlambat. Dan ketika Sasti mengusirnya keadaan Rico jadi jauh lebih parah selama seminggu dia tak bisa bangun dari tempat tidur, “ Dia cinta sama kamu sejak dulu. Dia berusaha keras mencari beasiswa agar kamu bisa meraih mimpimu, Ia tak pernah tahu kata menyerah kalau menyangkut soal kamu. Dia terluka saat melihat kedekatan kamu dengan Radit, tapi Ia tak berbuat apa – apa karena kamu bahagia. Dia cuma ingin melihat kamu tersenyum, Ia tak pernah berharap balasan cinta dari kamu, Sas. Tapi kalau Tante boleh minta, maafkan dia. Dia hanya mencintai kamu dengan cara yang Ia pikir benar.”  Kata – kata Tante Rina selalu terngiang dikepalanya.
Sasti memang berpikir Ia menyukai Kak Radit, tapi saat Rico pergi dari hidupnya. Ia sadar Rico-lah yang Ia cintai. Ia kesepian saat tak mendengar suara Rico, Ia diam saat tak melihat senyum Rico, Ia sendiri saat tak bersama Rico. Rico pergi ke Yogyakarta untuk kuliah di UGM jurusa tekhnik mesin dan 1 tahun yang lalu Ia pergi ke Jepang untuk bekerja setelah mendapat rekomendasi dari pihak kampus. Sasti terlambat ke bandara dan baru tahun depan Rico kembali lagi.
Ia memeluk lututnya dan menangis dalam diam menyesali kebodohannya,
“ Dulu bengong, sekarang hobinya nangis.” Ucap sebuah suara yang sangat ia kenal di depannya. “ Rico bahkan sekarang aku bisa mendengar suaramu, aku merindukanmu . . tapi tunggu . .” Sasti langsung mengangkat kepalanya dan mendapati cowok kerempeng yang Ia kenal dulu sedang duduk didepannya dan tersenyum padanya.
“ Rico, itu kamu?” Tanya Sasti tertahan,
“ Ya iyalah, masa hantu! Nggak dipeluk niy?”
Sasti  tersenyum. Dia melihat cowok didepannya. “ Rico kamu nggak tahu, seberapa besar peran kamu dalam hidupku, Kau membuatku berani bermimpi dan kau juga memberiku cara merain mimpi ini. Rico makasih, terima kasihuntuk semuanya . Dan jangan ninggalin aku lagi,” Ucapnya dalam hati sembari mendengarkan cerita Rico tentang Jepang.
“ Ai shi teru.” Ucapku singkat tapi mampu membuat cowok didepanku ini terpaku tak bergerak dan memandangku kaget. Aku tersenyum.
“Ok, ucapan itu terasa jauh lebih baik dari sebuah pelukan.”
Teman jangan pernah takut bermimpi, walaupun mustahil percayalah kamu bisa.
Dan . . . percayalah Tuhan tahu mana umatnya yang punya tekad kuat dan usaha yang keras.☺ 

never feel it... really,

oke...

kadang gue mikir, sebenarnya apa sih yang gue cari?
apa sih yang gue tunggu?
apa sebenarnya yang menjadi tujuanku?

aku memang masih muda,
banyak yang bilang kalau orang muda labil itu gak masalah...lumrah,
tapi, yang aku alami sedikit berbeda...(well, setiap manusia memang unik-kok---)
aku sudah dewasa...(bukan tubuhnya yang gede maksudku)..terkadang pola pikirku begitu
jauh ke depan dan melihat sesuatu jadi jauh lebih matang dibanding teman-temanku

tapi disisi lain, aku begitu muda dan jujur....gak tahu apa - apa...
ini tentang cinta, ya tentang hal yang satu ini...

sumpah ya, gue nggak tahu harus ngapain ama hal yang satu ini...

kalian tahu? jujur aja niy ya...gue gak pernah yang namanya jatuh cinta ama orang...sumpah!!!
paling cuma sekedar crush, gak lebih...

sometimes ,